#BookReview | The Architecture of Love by Ika Natassa

Assalamu’alaikum.

Lama gak update, muncul dengan bahasan baru! Post terakhir tanggal 1 Januari 2015 (yang udah gue Trash, wkwk), besok udah 1 Januari 2017, it means udah 2 years ago. Waktu emang berlalu dengan cepat.

Well, sebelumnya gue mau sedikit cerita ‘alasan’ gue suka buku dan menulis, literally. Gue suka buku sejak SMP, sejak gue kenal Ratu Vienny Fitrilya si Gadis Artistik sekaligus Kapten K3 per-1 Desember 2016 kemarin. Gue sempet kayak gue gak ngerti lagi kesukaan gue itu apa atau hal yang paling gue sukai itu apa atau kegiatan yang gue sukai itu apa, gue sempet kayak gitu. Gue coba untuk mengerti apa yang oshi gue sukaiーMembaca, Menulis, Menggambar, Musikー dan yang gak gue kira sebelumnya, ternyata gue juga suka baca dan nulis. Itu yang gak gue tau selama ini. Sebagian selera kita agak beda, tapi banyak juga kok rekomendasi dari Kapten K3 itu yang gue suka, caranya menyampaikan seni itu buat gue jadi makin suka sama seni dan mulai mengasah bakat seni yang sejujurnya memang ada di setiap manusia, lo juga punya seni kok, tinggal seberapa tajam lo tertarik dan mengasahnya.

“Buuu, akhirnya anakmu ini punya darah seni yang engkau turunkan!”, di balik kalimat itu, sebenarnya ibu selalu berkata, “Kamu ini gak punya seni sama sekali!”. Kenapa? Karena seni kita berbeda. Kenapa? Ya beda. Ibu lebih ke-keterampilan atau kerajinan atau desain gitu tapi kalo gue lebih pakai perasaanーlo boleh bilang kalau gue baperanー. Nih ya gue gak sabaran gitu kalo suruh ngerjain suatu hal, at least, bikin parsel lamaran atau ngebentuk adonan kue atau merajut. Gue gak sabaran banget, gue lemah kalo disuruh begituan. Jadi sih jadi ya, cuman, berantakan gak ketulungan.

Weits! Kepanjangan gue ceritanya? Gak kan? Lanjut ke bakat menulis gue. Udah gue akui tadi kalau gue baperan, you know, menulis itu butuh baper. Dan kalau gue udah baper gue susah cerita atau setidaknya ngomong gitu ke orang lain. Biasanya gue tulis di Note handphone atau bahkan di halaman paling belakang buku pelajaran biar gak lupa, semenit aja gak gue tulis tuh pikiran bisa terbang terbawa angin sampai Hokkaido, mungkin. Gue tau. Tulisan gue gak sebagus Aan Mansyur, atau selucu Bang Radit, atau sebaper novel Sunshine Becomes You. Gue nulis cuma buat mengungkapkan apa yang gue pikirin, apa yang gue denger, apa yang gue rasain, apa yang ada di sekitar gue, apa yang terjadi, dan banyak inspirasi menulis yang bisa gue dapetin dari mana pun asalnya. Soal orang lain suka atau gak, gak terlalu gue pikir. Bukan berarti gue gak terima masukan atau kritik dari kalian, gue selalu pikirin itu. Gimana biar kalian gak bosen dengan apa yang gue tulis. Gue lebih suka nulis, sejenis, apa ya, kayak puisi tapi gue merasa agak gak pantes kalau disebut puisi, gue lebih suka tulisan gue itu cukup disebut ‘tulisan’ aja cukup, udah. Tapi suka – suka lo deh mau nyebutnya apa. Terima aja, pasrah. Labil? Gue tau itu. Hahaha.

Balik ke bahasan hari ini. #BookReview pertama dari gue di penghujung 2016 ini. Buku karya Ika Natassa yang berhasil ditulis dengan bantuan sosial media Twitter melalui #PollStory nya setiap Selasa dan Kamis kalau gak salah, hehe. Berhasil diterbitkan sekitar Bulan Juni 2016. Gue yang emang hiperaktif di Twitter gak akan kasih celah sedikitpun untuk gue untuk gak stalking akun si Gadis Artistik tiap hari. Mulai dari men-scroll kicauannya, liat – liat fotonya, dan yang pasti gue liat juga ‘Following’nya. Dan dari akun – akun yang difollownya itu gue bisa tau tante Ika Natassa, si penulis Bestseller A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare, Antologi Rasa dan Critical Eleven yang denger – denger kalau gak salah gak lama lagi bakal dibikin filmnya. Kenapa gue sebut tante? Cocok aja. Dan! Kemarin lusa gue sempet mampir toko buku setelah sekian lamanya terus nemu bukunya ‘The Architecture of Love’. Sebelumnya lihat di Twitter cuma kayak, “Alah, paling juga kagak lo beli, Al” gitu kan. Salah besar guys! Gue memberanikan diri untuk beli bukunya karena dilihat dari sinopsisnya bikin gue penasaran. Buku pertama dari Ika Natassa yang gue beli. Excited banget selepas dari kasir pengen cepet – cepet gue baca. Gue tau gue ‘sedikit’ alay.

So far, TAOL adalah buku paling bagus yang pernah gue baca. Gue keluar dari zona nyaman, dengan genre yang beda dari genre buku yang gue baca biasanya, tapi sangat memuaskan hati dan gue belum pernah merasa sebaik ini. Berlatarbelakang NY dan IDN, tatanan kata yang dipilih, alur cerita, watak tokoh dsb menjadikan novel ini sangat recommend untuk dibaca.

Berawal dari kedatangan seorang penulis yang sengaja menjadikan NY sebagai pelariannya karena sejak kejadian beberapa tahun yang lalu membuatnya kesulitan memunculkan ide menulis dan kehilangan muse-nya. Tinggal bersama sahabatnya, Erin, yang memang bekerja disana. Gak sengaja ketemu seorang arsitek yang ternyata Abang dari teman yang bernama Aga di salah satu ruangan di NYE party 31 Desember waktu itu. River namanya, Si Bapak Sungai yang sengaja datang ke NY untuk mengalahkan suara – suara yang selalu datang dengan bisingnya NY pagi, siang, sore hingga tengah malam. Hingga hampir tiap hari si penulis,Raia, dan River selalu jalan bareng keliling sekitaran NY menceritakan beberapa hal. Dan ada kejadian yang gak bisa gue omongin di sini ketika merekaーRaia, River, Erin, Aga dan Teddyー liburan bersama. Lo harus banget baca sendiri novelnya biar ngerti apa yang gue maksud. Dan meski begitu gue suka bagian itu, bagian yang sangat jujur, bagian yang sedikit mengurangi rasa penasaran Raia kepada River. Sejak sering bareng terus, Raia akhirnya bisa nulis lagi dengan River yang tetap terus menggambar berbagai objek yang sudah tak terhitung jumlahnya. Dibandingkan tulisan Raia yang baru selesai 2 kalimat pembuka. Hingga pada akhirnya River harus kembali ke Indonesia dan Raia merasa kehilangan sejak saat itu. Ia terus menulis dan menulis hingga berhasil menyelesaikan kumpulan cerpen dan cerpen terakhirnya. Tak hanya berhasil ditulis, bukunya itu akan segera diterbitkan. Jika ya, maka ya. Begitu juga malam ini. Malam yang ditunggu River untuk sebuah jawaban apakah benar anak dari teman Ibunya itu masih kerabat dengan Raia. Sebenarnya bukan itu, melainkan River rindu pada Raia, rindu segalanya yang ada pada diri Raia. Dia benar – benar melihat Raia (lagi). Memberitahu Raia bahwa ia akan ke Australia keesokkan harinya membuat Raia terlihat gak cukup baik setelah pertemuan ini. Di situ pula River berjanji bahwa ia akan kembali setelahnya dan Raia hanya mengangguk. Sesuatu yang Raia rindukan namun harus lagi menghilang. Raia menjadi sangat sibuk, harus menandatangani 1000 eksemplar buku PreOrdernya dan yang terakhir di acara launching buku terbarunya ia kembali mengenali suara itu namun dengan kaus kaki yang sudah tidak hijau lagi. Suara dan senyum yang dirindukan. Kembali bertemu. Mengakui bahwa mereka merasakan hal yang sama.

Yups! Kira – kira gitulah ya ceritanya. Banyak kejadian yang bikin penasaran dan tak terduga. Cover TAOL juga bagus tau! Ini salah satu daya tarik yang bikin gue jatuh sama buku ini. Gak terlalu tebal juga bukunya jadi sebenernya sabi sih kalau habis dibaca seharian. Seru pokoknya. Ikut kebawa suasana, tuh kan baper hehe. Selain itu, setiap percakapan pasti ada pakai Bahasa Inggris-nya. Iyalah, Al, kan latar belakangnya juga NY. Itu yang gue suka juga, itung – itung sambil belajar Bahasa Inggris ya kan. Sebenernya gue pengen baca novel yang pure English gitu, tapi waktu gue cari di Bookstore waktu itu kok gak nemu ya? Pengen banget. Ini bukan kode ya wkwk. Eh, dianggap kode juga gakpapa deh, ikhlas gue mah. Pokoknya novel ini harus banget lo baca ya. Bagus banget. Sayang untuk dilewatkan nih. Cuslah yang belum baca segera baca. Biar bisa masuk ke kehidupan Bapak Sungai dan Ibu Hari Raya.

img_20161230_154836_399
Ini dia penampakan bukunya!

Well, itulah #BookReview gue kali ini. Gue tau mungkin ini belum pantes dianggap Book Review sepenuhnya, tapi gue udah berusaha dengan keras untuk menulis ini. Gue harap kalian ada kritik dan saran gitu buat gue kedepannya, khususnya untuk Book Review kali ini. Agar supaya gue bisa lebih baik di BR selanjutnya.

Ohya, soal Channel Youtube gue kenapa belum upload lagi? Itu karena gue lagi gak tau mau bahas apa atau melakukan challenge apa atau ngevlog gitu. Kalo ngevlog mah ada banyak bahan, cuma ya gitu, gue belum siap dianggap gila karena ngomong depan kamera di khalayak ramai. Busetdah bahasa gue, apaan banget ya. InsyaAllah deh bakal upload lagi secepatnya, kalo ada saran gue ngapain gitu bisa kok. Bilang aja di comment. Gue terima semuanya, asal masuk akal dan gak dilarang agama Islam maupun UUD 1945 yang sudah diAmandemen ya! Haha.

Terimakasih tante Ika Natassa. Tentang Bapak Sungai dan Ibu Hari Raya, terimakasih telah mengajari banyak hal. Bahwa untuk memulai sesuatu yang baru itu gak harus nunggu NYE terus besoknya udah ganti tahun baru bisa mulai yang baru itu. Kita bisa mulai sesuatu yang baru itu tanpa harus menunggu NYE. Sesuatu yang baru itu bisa kita mulai kapanpun kita mau. So, just do it! And don’t worry ’bout it! Trust urself.

See you on next #BookReview someday! Jangan lupa comment!